BERITA UTAMA LIFE STYLE

Biaya Hidup Tinggi, 71 Persen Generasi Z Tunda Pernikahan

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Pernikahan, yang dahulu dianggap sebagai tahap penting dalam kehidupan, saat ini semakin sering ditunda oleh Generasi Z di Indonesia. Generasi ini umumnya lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di era digital dan menghadapi tantangan sosial-ekonomi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Tantangan ini semakin diperberat oleh mahalnya biaya resepsi dan kekhawatiran menyiapkan dana pendidikan anak di masa depan.

Akibat realitas ekonomi tersebut, fenomena penurunan angka pernikahan pun terlihat jelas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan drastis angka pernikahan di Indonesia—dari sekitar 2,11 juta peristiwa nikah pada tahun 2014 menjadi 1,47 juta pada tahun 2024.

Anak muda kini mengambil langkah realistis: alih-alih memaksakan diri, mereka memilih untuk mandiri secara finansial, fokus pada karier, dan mempersiapkan mental sebelum membangun rumah tangga. Banyak yang melihat persiapan dana darurat—ideal minimal 3 kali lipat dari pengeluaran bulanan—sebagai langkah wajib yang harus dipenuhi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Sementara berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Ramadhan, Sukmayanti, Perdana, & Rukmana (2025) menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia tidak menolak pernikahan, tetapi cenderung menundanya, salah satunya karena pertimbangan kesiapan finansial.

Untuk memperjelas peran faktor finansial, penelitian oleh Herliana Riska dkk. menunjukkan bahwa 71% Generasi Z menunda pernikahan hingga mencapai kestabilan finansial melalui karier atau pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa ketidakstabilan finansial merupakan faktor dominan dalam penundaan pernikahan.

Ketidakstabilan finansial menunjukkan pentingnya tercapainya stabilitas ekonomi bagi generasi muda sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Salah satu penyebab paling nyata ketidakstabilan finansial Generasi Z adalah meningkatnya biaya hidup. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara kenaikan upah tidak sebanding dengan laju inflasi.  Generasi Z kini hidup di tengah realitas ekonomi yang membuat mereka harus bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Selain itu, budaya konsumtif di kalangan muda turut memperberat beban finansial. Keinginan untuk mengikuti tren gaya hidup modern seperti nongkrong di kafe atau membeli barang-barang lifestyle. membuat kesulitan menabung. Mereka akhirnya merasa belum siap menanggung biaya besar untuk membangun rumah tangga.

Esai ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai keterkaitan antara aspek ekonomi dan keputusan sosial dalam konteks pernikahan, serta menekankan pentingnya peningkatan literasi finansial sebagai langkah solutif bagi Generasi Z di era modern.

Editor: Hendy

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *