Tekanan Perang Iran Bikin Kondisi Mental 5.000 Awak Kapal Induk USS Abraham Lincoln Memburuk

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan semakin mengkhawatirkan setelah kapal perang Amerika Serikat itu menjalani penugasan panjang di tengah operasi militer terkait perang Iran. Ribuan pelaut dan marinir di dalamnya disebut menghadapi kelelahan fisik, tekanan psikologis, sulit berkomunikasi dengan keluarga, hingga ketidakpastian kapan mereka dapat kembali ke rumah.
Sejumlah laporan media Amerika Serikat mengungkap adanya awak yang mencoba melompat dari kapal dan anggota keluarga yang mengkhawatirkan kondisi mental orang-orang terdekat mereka.
Sementara itu, laporan media Iran, Tasnim bahkan menyebut terjadi bentrokan keras di atas kapal yang menewaskan tujuh personel. Namun, klaim mengenai tujuh personel tewas tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh Angkatan Laut AS maupun media militer Amerika.
Laporan Tasnim News Agency, Rabu (12/8/2026) bersumber dari orang dalam militer AS, yang disebut mengetahui kejadian tersebut, melaporkan situasi di USS Abraham Lincoln memanas setelah penasihat Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper datang ke kapal. Kedatangan penasihat itu disebut berkaitan dengan meningkatnya keluhan awak setelah keluarga mereka melakukan protes mengenai penugasan kapal yang berlangsung terlalu lama.
Penasihat itu mendapat sorakan dari para personel ketika berbicara di hadapan awak kapal. Botol air juga disebut dilemparkan ke arahnya. Situasi kemudian dikabarkan berubah menjadi bentrokan antarpersonel yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya. Tujuh personel Angkatan Laut AS tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam bentrokan tersebut. Laporan itu juga menyatakan suasana di atas kapal masih tegang. Hingga laporan ini disusun, tidak terdapat konfirmasi resmi dari Angkatan Laut AS mengenai adanya bentrokan yang menewaskan tujuh personel tersebut.
Satu hal yang pasti, tekanan panjang dialami sekitar 5.000 pelaut dan marinir USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut meninggalkan San Diego pada 21 November 2025 untuk penugasan yang semula direncanakan berakhir pada Mei 2026, tetapi kemudian diperpanjang tanpa tanggal kepulangan yang diumumkan secara terbuka.
Laporan Military Times dan Stars and Stripes mengungkap kondisi psikologis awak kapal. Sejumlah keluarga mengatakan terdapat awak USS Abraham Lincoln yang mencoba atau bersiap melompat dari kapal selama penugasan berlangsung.
Annabelle Loma, istri salah seorang awak, mengatakan suaminya telah mencoba melompat dari kapal dan kini ditempatkan dalam status medical hold. Menurut Loma, suaminya sebelumnya sudah berulang kali mengalami kelelahan akibat beban penugasan yang berkepanjangan. Setelah insiden tersebut, ia juga khawatir karier militernya selama 13 tahun akan berakhir.
Dalam kasus lain, istri seorang pelaut bernama Maria Rodriguez menceritakan suaminya pernah melihat rekannya bersiap melompat ke laut ketika sedang bertugas. Ia kemudian menarik tangan pelaut tersebut hingga kembali ke dek, dibantu tiga awak lain yang datang setelah mendengar keributan. Stars and Stripes juga melaporkan awak kapal mendapat pengumuman mengenai insiden seorang personel yang dicegah melompat dari kapal.
Angkatan Laut AS tidak mengungkap secara rinci berapa banyak awak yang mencoba melakukan tindakan serupa atau melakukan tindakan menyakiti diri selama penugasan USS Abraham Lincoln. Masalah tersebut muncul ketika kapal induk menjalani penugasan nyaris tanpa henti selama delapan bulan, sementara kesempatan bagi awak untuk turun ke daratan sangat sedikit, sementara operasi militer di kawasan Timur Tengah terus berlangsung.
Kesehatan Mental Memburuk
Kekhawatiran mengenai kesehatan mental awak USS Abraham Lincoln kemudian dibawa langsung keluarga kepada pejabat senior Angkatan Laut AS dalam pertemuan di San Diego. Sekitar 200 anggota keluarga menghadiri pertemuan dengan Pelaksana Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao dan pejabat militer lainnya untuk menyampaikan keluhan mengenai kelelahan, kesehatan mental, keselamatan serta ketidakjelasan waktu kepulangan kapal.
Dalam salah satu pertemuan, seorang anggota keluarga disebut menyampaikan bahwa suaminya mengirim pesan yang menunjukkan keputusasaan dan mengatakan berharap tidak terbangun keesokan harinya. Keluhan tersebut menggambarkan sejauh mana tekanan psikologis yang dirasakan keluarga awak kapal setelah berbulan-bulan tidak mendapatkan kepastian mengenai kapan orang-orang yang mereka cintai akan pulang.
Sejumlah keluarga juga mengeluhkan sulitnya komunikasi dengan awak kapal. Shelby Sanders, yang ibunya bertugas di USS Abraham Lincoln, mengatakan komunikasi selama berbulan-bulan berlangsung tidak menentu. Ketika ibunya berhasil mengirim pesan, Sanders dapat merasakan bahwa kondisi mentalnya sedang menurun setelah menjalani operasi tanpa henti selama berminggu-minggu.
Keluarga lainnya bahkan mulai mengkhawatirkan keselamatan anggota keluarga mereka. Manuel Guevara, yang anaknya bertugas di kapal tersebut, mengatakan putranya terdengar lelah, tertekan dan cemas dalam percakapan terakhir mereka. Ketidakpastian mengenai kapan kapal akan kembali, menurutnya, menjadi beban tambahan bagi keluarga yang terus menunggu dari rumah.
Tak hanya persoalan kesehatan mental, keluarga juga melaporkan adanya masalah makanan, pasokan air, layanan surat serta fasilitas hidup di kapal. Beberapa masalah tersebut kemudian disebut telah diperbaiki, tetapi keluarga menilai tekanan akibat penugasan panjang tetap belum teratasi.
Kapal induk biasanya melakukan kunjungan ke pelabuhan setiap 30 hingga 45 hari untuk mengisi kembali pasokan, melakukan perawatan sekaligus memberikan kesempatan kepada awak untuk beristirahat dari rutinitas di laut. Namun, USS Abraham Lincoln menjalani periode panjang tanpa kesempatan semacam itu.
Angkatan Laut AS membantah adanya persoalan pasokan yang berlangsung terus-menerus dan menyatakan kondisi logistik mulai membaik. Militer AS juga mengatakan kapal memiliki konselor kesehatan mental, pendeta militer, tenaga medis serta layanan pendukung lainnya. Pimpinan kapal disebut terus melakukan penilaian terhadap kesiapan psikologis para awak. Namun, bagi keluarga, persoalannya bukan hanya ketersediaan tenaga kesehatan mental. Mereka mempertanyakan apakah dukungan tersebut cukup untuk menghadapi penugasan yang terus diperpanjang tanpa kepastian waktu kepulangan.
Tekanan Operasi Iran
USS Abraham Lincoln sebelumnya berangkat dari San Diego untuk penugasan di kawasan Pasifik. Kapal itu kemudian dialihkan ke Timur Tengah dan sejak Januari 2026 menjalankan operasi di kawasan tersebut. Penugasan yang semula diperkirakan berakhir pada Mei diperpanjang, sementara Angkatan Laut AS belum memberikan tanggal pasti kepulangan.
Kapal tersebut telah berlayar selama 250 hari berturut-turut, yang menjadikannya salah satu penugasan terpanjang dalam sejarah modern Angkatan Laut AS.
Laporan yang lebih baru menyebut periode tersebut terus bertambah, dengan kapal masih menjalankan operasi di kawasan terkait perang Iran. Tekanan semakin besar karena awak kapal tidak hanya menjalani rutinitas pelayaran, tetapi juga mendukung operasi tempur. Dalam beberapa periode, mereka disebut menjalani puluhan hari operasi tempur secara terus-menerus di wilayah operasi Armada Kelima AS.
Angkatan Laut AS mengatakan kelompok kapal induk USS Theodore Roosevelt sedang dipersiapkan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Namun, pejabat militer belum memberikan tanggal kepulangan dengan alasan keamanan operasional. Bagi para awak dan keluarga mereka, ketidakpastian itu justru menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Setelah berbulan-bulan berada di laut, mereka tidak hanya membutuhkan dukungan psikologis, tetapi juga kepastian kapan penugasan berakhir dan kapan mereka dapat kembali berkumpul dengan keluarga.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Military Medicine pada 2025 menemukan bahwa sulit beristirahat, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, sulit berkomunikasi dengan keluarga serta minimnya kesempatan melepas stres merupakan sejumlah faktor yang paling mengganggu personel selama penugasan. Dengan kondisi USS Abraham Lincoln yang terus beroperasi tanpa kepastian kepulangan, persoalan yang muncul kini bukan lagi sekadar soal panjangnya sebuah misi militer. Sementara itu, kondisi politik di Selat Hormuz sepertinya belum akan mereda dalam waktu cepat. (Red)



