
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Kehadiran kapal pesiar ekspedisi J7 Explorer sepanjang 120 meter di kawasan perairan Papua Selatan mendadak menyedot perhatian publik dan memicu perbincangan hangat di media sosial. Sorotan tajam netizen berawal dari pemandangan yang tak biasa pada lambung megah megayacht berbobot 8.076 GT tersebut, di mana logo resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia terpampang jelas.
Penampakan visual armada mewah pribadi milik pengusaha kenamaan asal Kalimantan Selatan, Andi Samsudin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, berpadu simbol otoritas militer negara, langsung memantik simpang siur spekulasi serta perdebatan mengenai batas kewenangan penggunaan simbol negara oleh pihak swasta. Kolom komentar berbagai unggahan berita langsung dipenuhi tanggapan krisis kepercayaan dan lontaran nada sindiran.
Pengguna akun septha_yudha melempar kekhawatiran hukum dengan mempertanyakan aspek legalitas hubungan kerja sama tersebut. “Gratifikasi ga jatuhnya Min?” ujarnya.
Senada dengan kecurigaan itu, akun agatsia85 memberikan ulasan kritis mengenai mekanisme kerja sama swasta dan lembaga pemerintah yang dinilai janggal, “Gak mungkin dipinjam, di kontrak, klo di pinjam gratifikasi dong,”.
Sementara itu, ungkapan ketidakpercayaan atas alasan keterbatasan anggaran negara disindir tajam oleh akun bullyboy.id yang berkomentar singkat, “Modal dong“.
Di sisi lain, netizen yang familiar dengan armada megah ini turut membagikan jejak lokalitas kapal tersebut, seperti diutarakan akun riy_on3t yang menuliskan pengalaman visualnya. “Yg biasa tambat di pulau samber gelap,”.
Klarifikasi Kemhan
Merespons riak publik yang kian membesar, Kementerian Pertahanan bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan duduk perkara. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa kapal eksklusif buatan Batam tahun 2022 itu bukanlah aset inventaris negara, melainkan milik penuh unit usaha Jhonlin Marine Transport.
“Kapal digunakan untuk mendukung kegiatan dan mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Wanam, Papua Selatan, serta wilayah Kalimantan dan Sumatera,” kata Rico dalam siaran tertulisnya dikutip Minggu, (16/8/2026).
Rico menjelaskan, penempelan logo Kemhan pada lambung kapal menandakan secara simbolis bahwa seluruh aktivitas operasional armada tersebut tengah berada di bawah otoritas, pengawasan, dan penugasan khusus dari pemerintah. Pemanfaatan megayacht ini difokuskan penuh untuk menyokong operasi logistik dan pengerahan kebutuhan strategis nasional dalam mewujudkan swasembada pangan di wilayah terisolasi, seperti Wanam di Merauke, Papua Selatan, serta sejumlah kawasan di Kalimantan dan Sumatera.
Di balik kemewahan fasilitasnya yang mencakup 25 kabin berkapasitas 50 tamu, landasan helikopter, dan ruang akomodasi kru yang sangat luas, J7 Explorer dialihfungsikan secara mendadak menjadi pangkalan bergerak atau floating base camp. Mengingat geografis Papua Selatan yang ekstrem, terisolasi, serta belum ditunjang jalan darat memadai, pangkalan mengapung ini memegang peran krusial sebagai pusat kendali koordinasi, tempat tinggal bagi ribuan tenaga ahli, sekaligus titik tumpu utama rantai logistik di tengah rimba proyek.
Langkah tak biasa ini menjadi bagian dari mobilisasi sumber daya masif yang digalang Haji Isam demi mengejar target pencetakan sawah skala besar dalam mendukung agenda prioritas ketahanan pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pengembangannya, ribuan unit alat berat seperti ekskavator diimpor langsung dari China, bersanding dengan pelibatan pakar teknik daratan dari China, Jepang, hingga Eropa yang menginap di kapal tersebut.
Haji Isam sendiri menyatakan bahwa keterlibatannya dalam mega proyek ini murni didasari panggilan tanggung jawab menjalankan amanah negara demi kedaulatan pangan, bukan semata kalkulasi bisnis untung rugi. Guna mengejar target cetak sawah di Merauke, ribuan unit alat berat serta tenaga profesional dari dalam dan luar negeri diterjunkan langsung ke lokasi proyek.
“Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China. Selain itu, tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan untuk mendukung pekerjaan di lapangan,” ungkap Haji Isam dalam keterangan terpisah.
Proyek ini diharapkan tak hanya memperkuat stok pangan nasional, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja baru bagi masyarakat Papua.
Editor: Hendy



