
Lukisan letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi selama dua hari Jumat (4/9) dan Sabtu (5/9) mengingatkan semua orang tentang musibah besar meletusnya Gunung Krakatau 1,5 abad lalu. Akibat letusan dahsyat yang terjadi 27 Agustus 1883 itu Pulau Jawa dan Sumatra yang semula tersambung, terpisah dan menjadi Selat Sunda.
Tidak itu saja, letusan Gunung Krakatau tersebut menimbulkan gelombang pasang dan memicu tsunami besar yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa pada waktu itu. Namun diperkirakan lebih dari jumlah tersebut yang menjadi korban, karena saat itu perhitungan masih direka-reka saja, tidak seperti sekarang menggunakan metodologi canggih.
Saking dasyatnya letusan dentumannya sampai terdengar di Madagaskar yang jaraknya ribuan kilometer. Begitu juga gelombang pasangnya sampai negara Afrika di Bagian Timur. Sedangkan erupsinya berupa partikel debu vulkanik sampai membuat langit Eropa dan Amerika berubah warna hitam pekat. Pada saat itu warga di dua benua tersebut sempat bingung terjadinya fenomena alam ini, karena belum ada info canggih seperti sekarang.
Setelah 43 tahun kemudian tiba-tiba diketahui timbul sebuah gunung api dari dasar laut bekas Gunung Krakatau itu meletus. Tepatnya tahun 1927 gunung tersebut terlihat di atas permukaan laut di Selat Sunda dan diberi nama Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan para peneliti di zaman itu gunung api tersebut aktif seperti induknya Gunung Krakatau.
Hal tersebut terbukti pada 22 Desember 2018 terjadi letusan Gunung Anak Krakatau yang sempat mengalami longsoran lereng bawah laut akibat erupsi. Akibatnya terjadi tsunami di Selat Sunda yang gelombang menyapu di sepanjang Pantai Anyer dan Labuan, Banten. Terbaru, Gunung Anak Krakatau kembali tercatat mengalami erupsi menerus sejak 4 September 2026 malam hingga Sabtu (5/9).
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, turut menyoroti insiden erupsi Gunung Api Krakatau 4-5 September kemarin. Dalam unggahan di akun X personalnya, Erma mengatakan insiden erupsi Gunung Api Krakatau pada 1883 silam pernah menjadi mimpi buruk bagi seluruh dunia.
“Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan Anak Krakatau atau Krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia,” tulis Erma, dikutip dari akun X-nya.
Lebih lanjut, Erma juga menjelaskan beberapa poin terkait letusan Gunung Api Anak Krakatau dalam unggahannya di X. Berdasarkan pengamatan satelit hingga Sabtu (5/9) malam pukul 18:12 WIB, Erma mengatakan letusan piroklastik masih terjadi dan bergerak ke arah barat sepanjang 851 kilometer.
Ia juga menyebut letusan membentuk awan pirocumulus, yaitu awan debu panas (ash cloud) dan mengandung sulfur oksida. Pulau Enggano termasuk yang dilingkupi awan tersebut.
“Berdasarkan simulasi, letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya,” tulis Erma.
Sementara itu Antara melaporkan dentuman keras akibat erupsi Gunung Anak Krakatau sampai terdengar di tiga provinsi, yakni Banten, Lampung dan bahkan Jawa Barat. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyebutkan adanya suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung, diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Krakatau yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, berlangsung pada waktu yang sama antara pukul 23.07 sampai pukul 04.40 WIB.
“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” kata Lana di Bandung, dikutip Minggu (6/9).
Menurut Lana, meski jaraknya jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara dentuman terdengar hingga Bandung Raya, bisa disebabkan ekspansi cepat pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava dengan kecepatan tinggi pada konduit (lubang kepundan).
“Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,” katanya.
Gelombang suara/tekanan udara frekuensi rendah dapat merambat ratusan kilometer melalui atmosfer. Lapisan atmosfer dan angin dapat membelokkan suara, perubahan suhu, tekanan, dan angin di ketinggian bisa membiaskan (membengkokkan) jalur suara kembali ke permukaan.
“Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar,” ucapnya.
Lana mengungkapkan berdasarkan pemantauan PVMBG, erupsi di waktu tersebut, disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Dari hasil pengamatan visual, terlihat semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Meski tinggi kolom erupsi belum dapat dipastikan, karakter semburan tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang dapat menghasilkan aliran lava.
Lana Saria mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait potensi tsunami.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” kata Lana.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga), yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu mewaspadai potensi bahaya berupa aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, maupun hujan abu vulkanik.
Penulis/Editor: Isa Gautama



