Prabowo Modal Sehari Rp 636 M Buat Program MBG, Pramono Modal Setahun Rp 876 M Bangun 19 Sekolah Moderen

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Mending perut kenyang beberapa jam atau sekolah moderen berjangka panjang hingga puluhan tahun? Anggaran ratusan miliar kalau cuma dipakai buat makan siang bakalan ludes dalam sehari. Tapi kalau dialokasikan buat membangun puluhan sekolah moderen dan estetika dampaknya bakal terasa seumur hidup untuk menghadapi realita jaman sekarang.
Prabowo menghabiskan modal dengan hitungan kurang lebih Rp 636 miliar dalam sehari saja untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggaran jumbo yang jika dihitung setahun bisa menembus Rp 232 triliun. Uang sebanyak itu dibakar setiap hari, tapi apa hasilnya? Kasus keracunan massal di berbagai daerah, lauk basi, distribusi berantakan, dan kualitas makanan yang jauh dari kata bergizi. Rp 636 miliar sehari habis hanya untuk makanan yang tidak layak dimakan dan akhirnya dibuang.
Bandingkan dengan Pramono Anung. Dengan modal setahun hanya Rp 876 miliar, Pramono berhasil membangun 19 sekolah modern di Jakarta. Bukan memperbaiki, tapi membangun total menjadi sekolah modern, lengkap, layak, dan berstandar internasional. Rp 876 miliar untuk setahun, hasilnya 19 gedung sekolah yang akan bertahan 20 sampai 30 tahun ke depan dan dinikmati ratusan ribu anak Jakarta.
Hitungannya sangat timpang. Prabowo Rp 636 miliar habis dalam 24 jam tanpa bekas. Pramono Rp 876 miliar menjadi 19 sekolah modern yang berdiri kokoh dan menjadi investasi masa depan.
Jika dibandingkan secara objektif, kinerja Pramono Anung dalam perbaikan sekolah di Jakarta jauh lebih baik, lebih efektif, dan lebih bermanfaat dibandingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Prabowo yang menghabiskan anggaran besar tapi hasilnya berantakan.
Pramono membuktikan bahwa anggaran yang tidak sebesar MBG nasional pun bisa menghasilkan dampak nyata jika dikelola dengan benar. Dengan anggaran APBD yang terukur, Pramono memperbaiki ratusan sekolah rusak di Jakarta. Sekolah yang tadinya bocor, lantainya rusak, toiletnya tidak layak, sekarang menjadi layak dan nyaman untuk belajar. Pramono tidak butuh anggaran ratusan triliun untuk membuat perubahan, cukup dengan fokus, pengawasan langsung, dan keberpihakan pada murid dan guru.
Sebaliknya, program MBG Prabowo menelan anggaran yang sangat besar, mencapai ratusan triliun dari APBN. Anggaran fantastis tersebut seharusnya bisa menghasilkan program kelas dunia. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Di berbagai daerah, MBG Prabowo dikeluhkan karena kualitas makanan yang buruk, distribusi yang tidak merata, banyak kasus makanan basi dan keracunan, serta rantai pasok yang tidak jelas. Anggaran besar tidak menjamin mutu besar.
Inilah perbedaannya. Pramono menggunakan anggaran kecil untuk hasil besar di sektor paling fundamental: perbaikan sekolah. Karena ia paham, anak tidak akan bisa belajar dengan baik jika sekolahnya rusak, meski diberi makan gratis. Prabowo menggunakan anggaran besar untuk program MBG yang ambisius, tapi gagal dalam eksekusi dasarnya.
Perbaikan sekolah adalah investasi jangka panjang untuk masa depan pendidikan. MBG dengan anggaran besar tanpa manajemen yang baik hanya menjadi proyek pemborosan. Rakyat Jakarta merasakan langsung manfaat perbaikan sekolah era Pramono, sementara rakyat di banyak daerah justru mempertanyakan kemana larinya anggaran besar MBG Prabowo.
Dengan anggaran yang jauh lebih efisien, Pramono memberikan bukti kerja nyata. Pramono lebih baik karena ia memperbaiki akar masalah pendidikan, bukan hanya pencitraan dengan program mahal.
Rakyat butuh sekolah modern, bukan program mahal yang gagal. Dalam hal ini, kinerja Pramono jauh lebih baik, jauh lebih hemat, dan jauh lebih berdampak daripada program MBG Prabowo.
Pintar itu investasi jangka panjang bukan kenyang sesaat.
Editor: Hendy



