Perancis Menuju Kehancuran? Utang USD 4 Triliun, Paris Membara, Pasar Panik

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Bukan Amerika, tapi Perancis yang hari ini jadi “pasien sakit baru” di Eropa. Perancis mengalami tiga krisis datang bersamaan. Per 19 Oktober 2026, utang Perancis tembus USD 4 triliun atau setara €3,5 triliun, 119% dari PDB. Rasio tertinggi sejak Perang Dunia II.
Defisit 2026, 5,4% PDB (batas Uni Eropa 3%). Imbal hasil obligasi naik tertinggi dalam 24 tahun, level yang tidak terlihat sejak krisis utang zona euro pada 2011. Investor mulai kabur, ragu pemerintah bisa kendalikan defisit.
Eurasia Group menyebut ini sebagai krisis paling berbahaya. “Prancis benar-benar berada di ambang krisis,” kata Direktur Eurasia Group untuk Eropa, Mujtaba Rahman di New York Times.
“Prancis sedang mengalami krisis demokrasi liberal, krisis salah urus fiskal, dan krisis ketidakpuasan kaum muda. Namun krisis fiskal adalah yang paling berbahaya.”
Penyebabnya menumpuk: efek panjang COVID-19, perang di Ukraina, dan perang di Iran yang bikin biaya energi naik 30% lebih.
Kondisi fiskal ini yang bikin utang makin tidak terkendali mengakibatkan Paris membara, di jalanan terjadi kerusuhan dan penajarahn. Aksi nasional pada Sabtu, 17 Oktober 2026, terjadi kerusuhan terparah dalam puluhan tahun. Sebanyak 550.000 orang menurut pemerintah, tetapi 800.000 menurut serikat buruh CGTA saat terjadi kerusuhan.
Awalnya protes pelajar SMA soal kelas kumuh, guru tidak hadir, sekolah tidak tahan panas. Lalu bergabung serikat buruh dan gerakan Rompi Kuning karena biaya hidup. Protes berubah menjadi anarkis, mobil dibakar, butik mewah dijarah, Galeries Lafayette Paris dibobol, Balai Kota Limoges dibakar habis. Dalam aksi panas itu, pihak kepolisan berhasil menangkap 1.200 orang dan sebanyak 150 polisi mengalami luka. Sementara toko waralaba Carrefour melaporkan 50 tokonya terdampak akibat aksi kerusuhan sehingga mengalami kerugian puluhan juta Euro.
Pemerintah Minoritas Tak Mampu Potong Anggaran
Perdana Menteri Sébastien Lecornu coba selamatkan APBN 2027 dengan target memotong belanja €54 miliar (pensiun €6 miliar, kesehatan €6 miliar) dan bekukan belanja negara. Tapi dia memimpin kabinet minoritas, parlemen tergantung, ditambah Pilpres musim semi 2027 sudah di depan mata. Marine Le Pen dan Jean-Luc Mélenchon yang unggul di survei tidak ada yang berani dukung penghematan yang menyakitkan rakyat. Pasar menolak anggaran itu.
“Siapa yang akan memilih pengetatan fiskal dengan pemilu di depan mata?” kata analis Reuters.
Jadi, apakah Perancis akan hancur? Belum hancur, tapi semua indikator menuju titik didih. Ketika pengeluaran pendidikan di atas rata-rata Uni Eropa tapi 25% habis untuk bayar pensiun guru, ketika gaji naik 2% tapi inflasi di atas 5%, rakyat tidak lagi percaya janji demokrasi.
Perancis yang dulu jadi simbol revolusi kebebasan, kini jadi simbol bagaimana negara kaya bisa bangkrut karena tidak mampu mengelola janji-janjinya sendiri.
Editor: Hendy



