Aneh Bin Ajaib, Para Jenderal Polisi Menyadap Pejabat Sendiri: Ini yang Disebut Pengkhianat Bangsa dan Negara Harus Dihukum Mati

Foto: Ilustrasi
Oleh : Zulkarnain
Sungguh aneh dan ajaib, justru para Jenderal Polisi yang diduga kelompok geng Solo, justru nekat menyadap pejabat sendiri.
Rakyat marah dan menyebutnya ini merupakan pengkhianat bangsa dan negara, sehingga pantas dihukum mati.
Biasanya seseorang atau satu kelompok atau pihak Badan Intelijen suatu negara, menyadap musuh atau pejabat dari negara lain untuk mendapatkan informasi yang akurat untuk menekan pejabat negara yang disadap tersebut agar menuruti keinginan mereka.
Adapun negara yang sering saling melakukan penyadapan adalah Amerika Serikat, Israel, Rusia Cina serta negara lainnya dibelahan Eropa.
Tapi di Indonesia sangat mengherankan, malah para Jenderal yang makan duit gaji dari pajak rakyat dan diberikan jabatan yang enak oleh Presiden Prabowo, justru berkhianat yang patut diduga untuk kepentingan politik kelompok tertentu.
Dengan kejadian ini, saya selaku penulis secara pribadi dan juga seluruh rakyat Indonesia, mengimbau serta menginginkan Prabowo untuk selalu waspada dan segera memecat para Jenderal lainnya maupun pejabat yang dicurigai berpotensi melakukan penyadapan dan pengkhianatan.
Saya juga berpesan kepada Prabowo, ditengah rakyat kesulitan ekonomi dan banyaknya musibah diberbagai daerah, hentikanlah hobi berjoget ria dengan sejumlah pejabat lainnya.
Para pejabat mestinya malu dan mawas diri, bangsa lain banyak yang menyindir Prabowo yang masih suka berjoget, sementara banyak rakyatnya yang kelaparan.
Contoh almarhum H. Suharto, meski berkuasa selama 32 tahun, namun belum pernah kita melihat Suharto berjoget ria dengan para menterinya.
Bapak Probowo, tolong berwibawalah sedikit, apalagi anda itu mantan Jenderal di Kopassus, yang mestinya bersikap gagah, berwibawa serta tegas dalam mengambil keputusan. Hati- hati dengan lingkungan Istana, yang selalu memuji, karena pejabat yang suka memuji serta memberi sanjungan setinggi langit, biasanya adalah penjilat yang gampang berkhianat.
Para penjilat itu kelakuannya mirip Anjing Helder. Kalau dia kenyang dikasih daging, Helder itu akan anteng dan seolah setia dengan sang majikan. Tapi begitu terlambat dikasih makan daging, justru tuannya sendiri yang dia terkam.
Kejadian penyadapan ini sudah jelas mereka yang sangat dekat dengan Presiden Prabowo, yang berada di lingkungan Istana. Tapi nyatanya mereka menerkam Prabowo dan kuat dugaan niat mereka mencabik-cabik presiden.
Negara harus mengusut tuntas kasus yang menghebohkan ini. Usut sampai ke akar akarnya agar ketemu benang merahnya siapa aktor intelektual dibalik penyadapan tersebut.
Ingat, rakyat tidak membenci Prabowo, tetapi rakyat kecewa dengan kelemahan presiden dalam memilih kabinetnya. Banyak diantara para pejabat itu, merupakan oknum yang sudah cacat namanya secara hukum, dan bahkan ada yang diduga sosok orang yang berperan dalam pembunuhan anggota FPI yang kita ingat dengan kasus KM 50.
Semoga presiden menyadari kekeliruannya dan segera memilih para pejabat yang cerdas dan berakhlaq, sehingga mereka tidak berani melakukan perbuatan tercela, terlebih lagi menyadap presidennya sendiri demi untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Presiden Prabowo jangan membenci tokoh yang sering mengkritik kinerjanya, sebab sosok yang mengkritik itu belum tentu membenci presiden.
Dimasa kepemimpinan Suharto, ada beberapa tokoh saat itu yang dianggap Suharto akan mengkhianatinya. Namun dugaan itu tidak pernah terbukti.
Bahkan yang menggulingkan Suharto lewat Reformasi, bukanlah tokoh yang pernah dicurigai Suharto, tetapi muncul dari sosok yang tidak ada dalam benak Suharto selama dia memimpin Negara Republik Indonesia….
Penulis adalah Wartawan Senior progresifjaya.co.id



