INTERNASIONAL

Korban Capai 500 dan 1.500 Masih Hilang: Banjir Bandang Nepal Akibat Perubahan Iklim, Batu Es Pegunungan Himalaya Mencair

JAKARTA — Dahsyatnya banjir bandang di Nepal dan sebagian Tiongkok menelan korban setidaknya 500 orang sampai Sabtu (29/8) pagi ini. Sekitar 1.500 warga dinyatakan hilang dan masih dalam pencaharian tim penanggulangan bencana negara itu.

Bencana banjir bandang dan longsor di wilayah pegunungan Nepal dan perbatasan China ini memang tidak lazim. Penyebab terjadinya bencana ini bukan karena curah hujan yang tinggi seperti di negara tropis di Asia. Tapi justru karena perubahan iklim dari dingin ke panas, hingga menyebabkan batu-batu es di pegunungan Himalaya mencair dan terjadi gletser yang longsor terjun bebas turun ke lembah-lembah yang curam di bawahnya.

Dari gambar dan video yang terekam di media sosial, bencana sungguh dahsyat. Tumpahan air, lumpur dan bebatuan dari atas gunung menimpa pemukiman penduduk dan pabrik-pabrik di bawahnya. Tampak orang-orang berlarian berusaha menyelamatkan diri, namun tidak sempat karena tergulung banjir yang mendadak datang dari atas yang kecepatannya diperkirakan mencapai 75 km/jam menghancurkan bangunan serta kendaraan yang tersapu banjir tersebut.

Juru bicara kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban jiwa masih dapat terus bertambah seiring upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan. Berdasarkan catatan pemerintah Nepal, sejumlah besar warga negara asing termasuk di antara korban hilang.

Warga negara India jadi yang paling terdampak, dengan 288 orang tercatat tak bisa dikontak, demikian menurut Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar.

Para pejabat Amerika Serikat (AS) juga mengabarkan sekitar 90 warga negara mereka tak diketahui keberadaannya hingga Kamis (27/8). Kemudian warga asing lain yang turut hilang dalam bencana ini antara lain dari Australia, Inggris, Kanada, Italia, Jerman, China, hingga Malaysia. Wisatawan yang hilang sebagian besar datang ke Nepal untuk berziarah.

Otoritas China telah mengerahkan 1.500 personel untuk membantu Nepal dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Lebih dari 5.000 tentara dan aparat kepolisian dimobilisasi Nepal untuk operasi ini.

Banjir bandang dan tanah longsor itu menyapu Nepal pada Rabu (26/8). Laporan awal menyebutkan musibah ini dipicu gempa bumi yang mengakibatkan longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi wilayah Nepal dan Tibet. Namun, analisis lebih lanjut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa bumi sebelum tanah longsor dan banjir bandang terjadi.

Nepal merupakan negara yang sebagian besar berupa pegunungan. Wilayah ini rawan terhadap bencana alam seperti banjir dan tanah longsor setiap musim hujan. Namun kali ini bencana bukan disebabkan hujan dengan curah tinggi. Dugaan para ahli geologi, karena justru adanya perubahan iklim yang dari dingin ke kemarau atau jadi musim panas, hingga es di atas dan lereng gunung mencair.

Memang pada awalnya, pemerintah Nepal menduga gempa bumi berkekuatan 4,4 magnitudo di dekat perbatasan menjadi pemicu bencana tersebut. Tetapi, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), peristiwa yang tercatat sebagai aktivitas seismik itu ternyata merupakan runtuhan gletser yang diikuti aliran material longsoran. Peristiwa tersebut kemudian menimbulkan dampak yang sangat parah di wilayah hilir.

Dari sejumlah gambar yang diperiksa oleh departemen tersebut, terlihat massa es dalam jumlah besar —kemungkinan berasal dari gletser—runtuh dari lereng gunung di sisi Tibet. Material itu kemudian meluncur deras menuruni lereng bersama batu dan sedimen. Pemerintah Nepal menduga runtuhan tersebut mungkin melepaskan air dalam jumlah besar sekaligus menghasilkan aliran material longsoran yang sangat kuat.

Salah satu teori yang berkembang adalah material longsoran sempat menyumbat Sungai Lhende dan membentuk bendungan alami. Air kemudian terus menumpuk di belakang bendungan tersebut hingga akhirnya bendungan jebol dan mengirimkan gelombang air serta material dalam jumlah besar ke wilayah hilir. Namun, sejumlah ahli mengingatkan bahwa bukti mengenai adanya penyumbatan sungai tersebut masih terbatas.

Basanta Raj Adhikari, pakar kajian bencana dari Universitas Tribhuvan di Nepal, mengatakan kepada BBC News Nepali bahwa tidak ada laporan mengenai penurunan debit atau ketinggian air Sungai Lhende sebelum banjir tiba. Padahal, penurunan permukaan air biasanya akan terjadi jika aliran sungai memang sempat terbendung di bagian hulu.

Menurut Adhikari, banjir bandang tersebut bisa saja terjadi secara langsung akibat longsoran es dan batu yang dipicu oleh runtuhnya gletser. Dia juga memperingatkan kemungkinan munculnya “gelombang bahaya kedua dan ketiga”. “Kita masih belum tahu. Saat ini tidak ada hujan deras, tetapi longsor masih bisa terjadi,” jelasnya.

Sejumlah ahli glasiologi mengatakan bukti terbaru membuat kemungkinan banjir akibat jebolnya danau gletser (glacial lake outburst flood/GLOF) sebagai penyebab utama menjadi semakin kecil. GLOF terjadi ketika air yang tersimpan di sebuah danau gletser tiba-tiba keluar setelah bendungan alami yang menahan danau tersebut —yang dapat berupa es, batu, atau sedimen— runtuh atau jebol.

Simon Cook, ahli glasiologi dari University of Dundee, Skotlandia, mengatakan kejadian serupa dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi di sejumlah wilayah, seperti Himalaya, Swiss, dan Pegunungan Dolomites di Italia. Menurutnya, pemanasan global kemungkinan menyebabkan permafrost —lapisan tanah yang membeku secara permanen dan membantu menjaga kestabilan sejumlah lereng gunung— mencair dan mengalami degradasi.

Kondisi tersebut, sambung Cook, membuat lingkungan pegunungan tinggi menjadi semakin tidak stabil. Akibatnya, risiko terjadinya longsor, aliran material longsoran, pencairan es gletser, banjir akibat jebolnya danau gletser, hingga runtuhnya gletser menjadi lebih besar.

Sedangkan Adhikari sependapat bahwa dampak perubahan iklim semakin terlihat. “Kita memang mengamati perubahan-perubahan ini, tetapi kita tidak tahu bahwa kejadian seperti ini akan terjadi pada hari tertentu,” ujarnya.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2023, Nepal kehilangan hampir sepertiga volume esnya dalam tiga dekade sebelumnya. Dalam periode 2011-2020, gletser di negara tersebut juga mencair 65% lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.

Para ahli mengatakan kawasan perbatasan Nepal-China sangat rentan terhadap bencana alam karena kondisi geografisnya. Wilayah ini merupakan rumah bagi sejumlah gunung tertinggi di dunia, gletser yang luas, hamparan salju, serta lereng-lereng terjal yang tidak stabil.

Sungai-sungai yang berhulu di Dataran Tinggi Tibet mengalir turun dengan cepat melalui lembah-lembah yang dalam sebelum mencapai wilayah Nepal yang dihuni penduduk.

Menurut para ilmuwan, kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut bencana berantai, yaitu ketika satu peristiwa alam memicu peristiwa lainnya. Risiko bencana berantai semakin tinggi selama musim monsun. Hujan deras dapat membuat lereng menjadi tidak stabil dan berinteraksi dengan gletser, lapisan es, hamparan salju, serta sistem sungai dengan cara yang kompleks.

Hujan deras dapat memicu longsor. Gletser, massa es, dan hamparan salju juga dapat runtuh. Longsoran kemudian bisa menyumbat aliran sungai dan membentuk bendungan alami sementara. Jika bendungan sementara itu tiba-tiba jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir deras ke wilayah hilir dan menimbulkan banjir yang sangat merusak.

Penulis/Editor: Isa Gautama

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *