MEGAPOLITAN

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Sekitar 1.000 Jamaah Muslimat NU Padati Masjid Agung Baitul Kamal Kota Depok

progresifjaya.co.id, DEPOK — Gema sholawat memenuhi Masjid Agung Baitul Kamal, Kota Depok, Kamis (3/9/2026). Sekitar 1.000 jamaah Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Depok memadati masjid untuk memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Para jamaah datang dari berbagai wilayah di Kota Depok. Sebagian di antaranya bahkan menggunakan angkutan sederhana, mulai dari angkutan kota hingga odong-odong, sementara lainnya datang dengan kendaraan pribadi.

Suasana semakin semarak ketika ribuan jamaah secara bersama-sama melantunkan sholawat. Suara sholawat menggema di dalam Masjid Agung Baitul Kamal, menciptakan suasana religius sekaligus mempererat kebersamaan warga Muslimat NU.

Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sekaligus Ketua Umum Muslimat NU, Arifah Fauzi.

Dalam sambutannya, Arifah mengingatkan para ibu mengenai semakin besarnya tantangan dalam mendidik dan melindungi anak di tengah perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, penggunaan telepon seluler yang semakin bebas di kalangan anak membawa dampak yang tidak sederhana. Karena itu, keluarga, terutama orang tua, harus menjadi benteng pertama dalam membangun akhlak dan budi pekerti anak.

Ia menekankan, kemajuan akademik anak memang penting, tetapi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai agama dan budi pekerti sebagai pondasi kehidupan.

“Juara boleh, tetapi nilai-nilai pondasi budi pekerti tetap harus dipertahankan,” demikian pesan Arifah kepada para jamaah.

Ia juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi pekerjaan besar. Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Arifah mengajak para ibu untuk tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah maupun pemerintah. Peran keluarga tetap menjadi bagian utama dalam membentuk karakter generasi masa depan.

“Pemerintah tidak bisa menyelesaikan tugas ini sendiri. Kita harus bergandengan tangan untuk menciptakan keluarga-keluarga yang mampu menjaga dan mendidik anak-anak,” pesannya.

Selain persoalan perlindungan anak, Arifah juga menyampaikan pentingnya dukungan terhadap program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai bagian dari upaya membangun kualitas generasi Indonesia.

Nuansa berbeda muncul ketika Ketua NU Kota Depok, KH Alek (Ahmad Sachlikan), tidak memberikan tausiah panjang. Ia justru mengajak jamaah mengikuti tiga pertanyaan kuis.

Pertanyaan pertama berkaitan dengan siapa Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Pertanyaan berikutnya menguji pengetahuan jamaah tentang tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, termasuk sosok Rais Syuriyah PBNU yang memiliki keterkaitan dengan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Cara tersebut membuat suasana peringatan Maulid terasa lebih interaktif. Jamaah tidak hanya mendengarkan rangkaian sambutan, tetapi juga diajak mengingat kembali tokoh dan sejarah NU.

Sementara itu, KH Jazim Hamidi Al Hafidz mengingatkan kembali posisi orang tua sebagai pendidik pertama bagi anak.

Menurutnya, sebelum anak mengenal pendidikan formal, keluarga merupakan tempat pertama seorang anak mengenal Tuhan, nilai kehidupan, akhlak dan budi pekerti.

Karena itu, orang tua harus menyadari besarnya tanggung jawab dalam membimbing anak sejak usia dini.

Ia mengajak para ibu untuk mensyukuri peran tersebut sekaligus terus memperkuat pendidikan agama di lingkungan keluarga.

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah tantangan pengasuhan anak pada era digital. Ketika anak semakin mudah memperoleh berbagai informasi melalui perangkat elektronik, orang tua dituntut tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberikan teladan dan pondasi moral.

Ketua Muslimat NU Kota Depok, Hj. Siti Luluk Muflihah, dalam sambutannya memaparkan sejumlah kegiatan dan perkembangan organisasi yang telah dilakukan.

Muslimat NU Kota Depok terus memperluas konsolidasi organisasi hingga tingkat bawah. Dari 63 ranting yang telah terbentuk, organisasi tersebut terus bergerak memperkuat struktur hingga tingkat kelurahan dan lingkungan masyarakat.

Luluk menegaskan bahwa menjadi bagian dari Muslimat NU bukan sekadar tercantum dalam struktur organisasi. Setiap pengurus harus mampu menjalankan organisasi sesuai aturan sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Menurutnya, keberadaan pengurus harus diikuti dengan kerja nyata. Organisasi tidak boleh hanya menjadi nama atau struktur administratif, tetapi harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Salah satu kegiatan sosial yang dilakukan adalah program Mustika NU melalui gerakan santunan. Dalam kesempatan tersebut, santunan diserahkan secara simbolis kepada 11 orang perwakilan dari tingkat kelurahan.

Selain itu, dilakukan pula penyerahan kelengkapan bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah umrah pada Oktober 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi bagi Muslimat NU Kota Depok bukan sekadar seremoni keagamaan.

Di balik lantunan sholawat dan kebersamaan ribuan jamaah, terdapat pesan yang lebih luas: memperkuat keluarga, menjaga akhlak anak, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus menghidupkan organisasi agar semakin dekat dengan masyarakat.

Dari Masjid Agung Baitul Kamal, pesan itu kembali ditegaskan—bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi, tetapi harus dibangun dengan agama, akhlak, keteladanan dan kasih sayang keluarga. ( Agus Tanjung)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *